Jumat, 16 Januari 2015

ESSAY AKU DAN SAHABATKU

Aku, Sahabat ku, dan Sekolah ku
Aku adalah manusia yang seperti bintang dimana bintang itu besinar di malam hari dan tak terlihat di siang hari yang berkelap- kelip di ujung, di tengah ataupun di belakang bulan yang menghalangi aku untuk terus bersinar. Aku seperti pelangi yang akan terlihat jika setelah hujan turun, dengan berbagai warna yang membuat hidup ku menjadi aneh dan tak seperti biasa nya orang rasakan yang berusaha tetap terus mewarnai langit yang saya tahu itu tak mungkin, adakala nya pelangi itu menghilang dan kembali lagi. Aku juga mirip dengan angin, yang menari beralun mengikuti irama panas nya dunia dan memberikan kesejukan bagi manusia yang merasakan nya, akan tetapi aku juga bisa menjadi angin yang membuat orang sedih dan terluka akibat hantaman angin yang dahsyat yang aku tiupkan kepada orang yang tidak baik dalam memanfaatkan hidup nya dengan positif. Aku juga seperti halnya kelapa yang semua orang bisa memanfaatkan apa yang aku miliki dengan sewajar nya akan tetapi aku akan menjadi bumi yang tanpa tiang mampu mengapung di angkasa raya, yang apabila tidak bisa menjaga keseimbangan akan jatuh dan takkan bisa bangkit kembali. Itulah aku seorang yang berbeda dari karakter orang lain.
Nama ku Marisi Agusman, aku dilahirkan dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, aku adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Dan aku adalah anak laki- laki pertama di keluarga ku. Aku lahir di Banten akan tetapi aku berakta kelahiran di Sukabumi, entah apa yang terjadi aku sendiri pun tak tahu itu, pernah aku bertanya kepada kedua orang tua ku, tetapi tak pernah aku dapatkan jawaban nya. Aku tinggal di lingkungan yang menurut ku kurang sesuai dengan keinginan ku, aku tinggal di sebuah desa bernama Babakan Panjang, desa itu cukup tenang dan tidak begitu jauh dari keramaian kota, akan tetapi yang membuat aku tidak nyaman adalah aku tidak memiliki teman disekitar rumah ku hal ini di karenakan anak- anak di desa ini tidak begitu akrab dengan ku. Mungkin karena aku sibuk dengan urusan ku pribadi di sekolah yang membuat orang enggan bermain dengan ku.
Didalam kita menjalani sebuah kehidupan tentunya kita tak mungkin bisa hidup sendiri, saat kita terjatuh pasti ada yang akan menuntun kita untuk berdiri kembali dan menopang tangan kita di atas pundak nya agar kita tidak jatuh kembali ke kedaan saat kita jatuh, dan tetap terus bergandengan tangan agar kita selalu di bombing menuju arah yang benar dan itulah sahabat .
Sahabat bagiku adalah sesosok makhluk yang Allah berikan kepada ku dengan bermacam karakter, walaupun ia hadir dalam keadaan apapun itu namanya, asalkan ia baik dan kita saling memahami aku sangat yakin orang seperti itu lah yang mampu menuntun ku dengan hati yang tulus ikhlas dan menuntunku kearah yang lebih baik, baik saat aku kecil, remaja ataupun dewasa. Seperti hal nya sat ini aku memiliki seorang sahabat yang begitu mengerti akan apa yang selalu aku rasakan baik saat aku kehilangan jati diri ku, saat aku menangis bahkan saat aku merasa bahagia akan sesuatu hal yang membuatku nyaman berteman akrab dengan nya.

Billy namanya, seorang anak yang berbakti kepada orang tua nya dan pintar dalam segala hal, dia bagaikan langit yang menyediakan tempat yang luas bagi ku untuk bersinar di malam hari dan ia seperti kakak yang memberikan ku motivasi agar aku terus bergerak maju, dia seperti alunan lagu yang mengiringi dinamika kehidupan ku. Dia adalah anugerah terbaik yang Allah berikan kepada ku. Jika ia menangis tak akan aku hibur dia untuk ia tertawa kembali akan tetapi aku akan ikut menangis bersamanya agar aku mampu merasakan apa yang ia rasakan dan jika ia berlari aku takkan menyuruhnya untuk berhenti akan tetapi aku kan ikut berlari bersamanya karena jika ia terjatuh aku akan mengangkat nya agar ia bisa berlari kembali. Aku berharap ia kan selalu bahagia, apapun akan aku lakukan agar ia berbahagia selalu dan tersenyum.
Dalam hidup ini semua bisa di katakan sebagai sekolah, dan sekolah bisa di katakana sebagai rumah yang penuh dengan dinamika luka- liku kehidupan. Semua tempat bisa di katakan sekolah karena dimana kita melakukan sesuatu yang bermanfaat itu di katakan sekolah. Sekolah seperti rumah karena di sekolah kita memiliki guru- guru yang seperti halnya orang tua kita di rumah dan kita juga memiliki teman yang di rumah sering disebut saudara. Dari sini lah aku berfikir bahwa sekolah adalah arti lain dari tempat aku melakukan segala aktifitas.
Sekolah menjadi awal kehidupan ku yang akan aku jadikan sebagai kertas gambar kosong yang telah aku lukis dan akan aku lanjutkan melukis di kertas itu. Artinya, aku telah menyelesaikan tahapan- tahapan aku mentapakan kaki ku semenjak saat aku sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan seterus nya sampai akhir nya aku bingkai lukisan itu dan aku gantungkan di langit agar keturunan ku melihat bagaimana aku dulu sekolah. Setiap tahapan itu memiliki kenangan yang mungkin tak bisa di lupakan oleh orang yang telah menyelesaikan tahapan itu. Hal positif dan negative bercampur aduk pada setiap tahapan, kebahagian serta kesedihan membaur menjadi satu pada setiap rangkaian tahapan sekolah.
Aku, Sahabat ku, dan Sekolah ku adalah sebuah rangkaian kata –kata indah yang menemani setiap langkah kehidupan ku yang memiliki makna yang berbeda di setiap kata – katanya. Semoga hal ini mampu menjadi sebuah inspirasi besar bagiku dan orang lain. Amin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

post your comment