Aku, Sahabat ku, dan Sekolah ku
Aku adalah manusia yang seperti bintang
dimana bintang itu besinar di malam hari dan tak terlihat di siang hari yang
berkelap- kelip di ujung, di tengah ataupun di belakang bulan yang menghalangi
aku untuk terus bersinar. Aku seperti pelangi yang akan terlihat jika setelah
hujan turun, dengan berbagai warna yang membuat hidup ku menjadi aneh dan tak
seperti biasa nya orang rasakan yang berusaha tetap terus mewarnai langit yang
saya tahu itu tak mungkin, adakala nya pelangi itu menghilang dan kembali lagi.
Aku juga mirip dengan angin, yang menari beralun mengikuti irama panas nya
dunia dan memberikan kesejukan bagi manusia yang merasakan nya, akan tetapi aku
juga bisa menjadi angin yang membuat orang sedih dan terluka akibat hantaman
angin yang dahsyat yang aku tiupkan kepada orang yang tidak baik dalam
memanfaatkan hidup nya dengan positif. Aku juga seperti halnya kelapa yang
semua orang bisa memanfaatkan apa yang aku miliki dengan sewajar nya akan
tetapi aku akan menjadi bumi yang tanpa tiang mampu mengapung di angkasa raya,
yang apabila tidak bisa menjaga keseimbangan akan jatuh dan takkan bisa bangkit
kembali. Itulah aku seorang yang berbeda dari karakter orang lain.
Nama ku Marisi Agusman, aku dilahirkan
dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, aku adalah anak ketiga dari lima
bersaudara. Dan aku adalah anak laki- laki pertama di keluarga ku. Aku lahir di
Banten akan tetapi aku berakta kelahiran di Sukabumi, entah apa yang terjadi
aku sendiri pun tak tahu itu, pernah aku bertanya kepada kedua orang tua ku,
tetapi tak pernah aku dapatkan jawaban nya. Aku tinggal di lingkungan yang
menurut ku kurang sesuai dengan keinginan ku, aku tinggal di sebuah desa
bernama Babakan Panjang, desa itu cukup tenang dan tidak begitu jauh dari
keramaian kota, akan tetapi yang membuat aku tidak nyaman adalah aku tidak
memiliki teman disekitar rumah ku hal ini di karenakan anak- anak di desa ini
tidak begitu akrab dengan ku. Mungkin karena aku sibuk dengan urusan ku pribadi
di sekolah yang membuat orang enggan bermain dengan ku.
Didalam kita menjalani sebuah kehidupan
tentunya kita tak mungkin bisa hidup sendiri, saat kita terjatuh pasti ada yang
akan menuntun kita untuk berdiri kembali dan menopang tangan kita di atas
pundak nya agar kita tidak jatuh kembali ke kedaan saat kita jatuh, dan tetap
terus bergandengan tangan agar kita selalu di bombing menuju arah yang benar
dan itulah sahabat .
Sahabat bagiku adalah sesosok makhluk
yang Allah berikan kepada ku dengan bermacam karakter, walaupun ia hadir dalam
keadaan apapun itu namanya, asalkan ia baik dan kita saling memahami aku sangat
yakin orang seperti itu lah yang mampu menuntun ku dengan hati yang tulus
ikhlas dan menuntunku kearah yang lebih baik, baik saat aku kecil, remaja
ataupun dewasa. Seperti hal nya sat ini aku memiliki seorang sahabat yang
begitu mengerti akan apa yang selalu aku rasakan baik saat aku kehilangan jati
diri ku, saat aku menangis bahkan saat aku merasa bahagia akan sesuatu hal yang
membuatku nyaman berteman akrab dengan nya.
Billy namanya, seorang anak yang
berbakti kepada orang tua nya dan pintar dalam segala hal, dia bagaikan langit
yang menyediakan tempat yang luas bagi ku untuk bersinar di malam hari dan ia
seperti kakak yang memberikan ku motivasi agar aku terus bergerak maju, dia
seperti alunan lagu yang mengiringi dinamika kehidupan ku. Dia adalah anugerah
terbaik yang Allah berikan kepada ku. Jika ia menangis tak akan aku hibur dia
untuk ia tertawa kembali akan tetapi aku akan ikut menangis bersamanya agar aku
mampu merasakan apa yang ia rasakan dan jika ia berlari aku takkan menyuruhnya
untuk berhenti akan tetapi aku kan ikut berlari bersamanya karena jika ia
terjatuh aku akan mengangkat nya agar ia bisa berlari kembali. Aku berharap ia
kan selalu bahagia, apapun akan aku lakukan agar ia berbahagia selalu dan
tersenyum.
Dalam hidup ini semua bisa di katakan
sebagai sekolah, dan sekolah bisa di katakana sebagai rumah yang penuh dengan
dinamika luka- liku kehidupan. Semua tempat bisa di katakan sekolah karena dimana
kita melakukan sesuatu yang bermanfaat itu di katakan sekolah. Sekolah seperti
rumah karena di sekolah kita memiliki guru- guru yang seperti halnya orang tua
kita di rumah dan kita juga memiliki teman yang di rumah sering disebut
saudara. Dari sini lah aku berfikir bahwa sekolah adalah arti lain dari tempat
aku melakukan segala aktifitas.
Sekolah menjadi awal kehidupan ku yang
akan aku jadikan sebagai kertas gambar kosong yang telah aku lukis dan akan aku
lanjutkan melukis di kertas itu. Artinya, aku telah menyelesaikan tahapan-
tahapan aku mentapakan kaki ku semenjak saat aku sekolah dasar, sekolah
menengah pertama dan seterus nya sampai akhir nya aku bingkai lukisan itu dan
aku gantungkan di langit agar keturunan ku melihat bagaimana aku dulu sekolah.
Setiap tahapan itu memiliki kenangan yang mungkin tak bisa di lupakan oleh
orang yang telah menyelesaikan tahapan itu. Hal positif dan negative bercampur
aduk pada setiap tahapan, kebahagian serta kesedihan membaur menjadi satu pada
setiap rangkaian tahapan sekolah.
Aku, Sahabat ku, dan Sekolah ku adalah sebuah
rangkaian kata –kata indah yang menemani setiap langkah kehidupan ku yang
memiliki makna yang berbeda di setiap kata – katanya. Semoga hal ini mampu
menjadi sebuah inspirasi besar bagiku dan orang lain. Amin 

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
post your comment